Ngadi Busana
Ngadi Sasira
Ngadi Cipta
Ngadi Rasa
Ngadi Karsa

Wedhak bagus salep kanggi ngalusake kulit ( piranti Ngadi Sarira)

Kumis

Gelung

Lalar / Lulur

Alat Pengatur Rambut

Mangatur ati-ati dan Sinom

Celak

Pacar

Tindik

Sisig

Panggur

Memerah Bibir dan pipi

Proses memerah bibir merupakan salah satu proses Ngadi sasira. Sirih yang juga digunakan dalam proses memerah bibir, bersifat perlahan dan melalui proses agar bibir dapat merah. Selain menggunakan sirih, digunakan juga Gincu. Gincu digunakan untuk bibir dengan cara mengoleskan dengan kapas. Selain bibir, pipi pun menggunakan gincu sebagai rona keindahan pada kaum perempuan.

Ramuan dari gincu pada saat itu adalah:
Salah satu sumber menyebutkan dengan menghancurkan bata merah yang digerus sampai halus. Serbuk batu bata itu dioleskan ke bibir wanita disaat itu, begitupun pipinya.

Sumber lainnya adalah dengan menggunakan madu dari lebah yang berwarna merah, sehingga madunyaketika dioleskan dengan kapas mampu melembabkan kulit dibibir dan pipi, sehingga terjadi warna sendu memerah pada area tersebut.


Makan Sirih dalam Ngadi Sarira

Kebiasaan memakan/  mengunyah sirih  menyebabkan bibir menjadi merah.
Bibir yang menjadi merah ini, merupakan salah satu ritual Ngadi Saria.

Walaupun dalam proses mengunyah sirih tidak dilakukan oleh kaum wanita saja, kaum pria pun melakukan proses mengunyah sirih.

Hidangan sirih, pada waktu lampau merupakan sebuah hidangan yang terhormat. Terkadang sirih pun dipakai sebagai lambang persaudaraan yang erat.

Bahan yang dipakai dalam proses mengunyah sirih adalah:
  • Daun Sirih ( piper batle)
  • Injet atau kapur
  • Gambir  ( Uncaria gambir)

Ketiga bahan tersebut dikunyah hingga lembut didalam mulut. Sehingga air hasil kunyahan tersebut berwarna merah . Ludah yang berwarna merah ini dinamakan " idung abang".

Ramuan proses sirih ini pun ditambah beberapa rempah ( tergantung cita rasa personal). Ramuan sirih biasanya ditambahkan:
  • Kapulaga
  • Kayu Manis 
  • Cengkeh .


 SIRIH dalam budaya Jawa

Simbol sirih pun dipakai untuk salah satu peribahasa Jawa. 
Orang sering mengatakan pada anaknya laki-laki bahwa :
" tak dodok lawange, tak kinang jambe suruhe" ( Jawa)


artinya : Orangtua  sanggup melamar seorang gadis untuk anak laki-lakinya.

Selain itu, sirih dalam upacara Temon Manten , sirih juga memegang peranan penting. Masing-masing pengantin memegang tiga-lima helai gulung sirih dengan gambir dan injectnya ( gadak).

Dalam upacara Sawatan Sadak ( melempar sirih), kedua mempelai saling melempar sirih. Dimana laki-laki menghadap perempuan, begitupun sebaliknya.
Sehingg dalam hal ini, sirih sebuah simbol sebagai lambang perikatan percintaan .

Budaya pertemuan kaum ibu, si tuan rumah ( yang memiliki acara hajatan) selalu menyediakan sirih dengan bumbunya. Wadah sirih ini dinamakan : "Wadah Kinang", beserta tempat ludag atau dubang atau kecohan.

Masih banyak sirih digunakan dalam kehidupan masyarakat jawa , biasanya sajen selalu menyertakan sirih sebagai ritualnya.





Macam-macam Ngadi Sarira

Macam-Macam Ngadi Sarira adalah
  • Makan Sirih
  • Memerah Pipi
  • Panggur
  • Sisiq
  • Tindiq
  • Pacar
  • Celak
  • Mengatur ati-ati dan sinom
  • Alat pengatur Rambut
  • Lalar
  • Gelung
  • Kumis

Arti dari Ngadi Sarira

Arti dari ngedi sarira adalah : mempercantik diri, dan wajah-wajah (make-up).
Pada zaman dulu, alat untuk ngedi sarira adalah obat-obat atau alat-alat tradisional.

Macam-Macam Ngadi Sarira